Sabtu, 19 Maret 2016

Dehidrasi



Gangguan Pada Tubuh Akibat Kekurangan Cairan
“Dehidrasi”
A.    Pengertian Dehidrasi
Dehidrasi adalah kekurangan cairan tubuh. Beberapa mekanisme bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh. Salah satu yang terpenting adalah mekanisme haus. Jika tubuh memerlukan lebih banyak air, maka pusat syaraf di otak dirangsang sehingga timbul rasa haus, akan bertambah kuat jika krbutuhan tubuh akan air meningkat, mendorong seseorang untuk minum dan memenuhi kebutuhannya akan cairan.
Mekanisme lainnya untuk mengendalikan jumlah cairan di dalam tubuh melibatkan kelenjar hipofisa di dasar otak. Jika tubuh kekurangan air, kelenjar hipofisa akan mengeluarkan suatu zat ke dalam aliran darah yang disebut hormon antidiuretik. Hormon antidiuretik merangsang ginjal untuk menahan air sebanyak mungkin.
Jika tubuh kekurangan air, ginjal akan menahan air yang secara otomatis dipindahkan dari cadangan dalam sel ke dalam aliran darah untuk mempertahankan volume darah dan tekanan darah, sampai cairan dapat digantikan melalui penambahan asupan cairan. Jika tubuh kelebihan air, rasa haus ditekan dan kelenjar hipofisa hanya menghasilkan sedikit hormon antidiuretik yang memungkinkan ginjal untuk membuang kelebihan air melalui air kemih.
Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu : Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan), dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan), dan dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).

B.     Penyebab Dehidrasi
Dehidrasi terjadi bila pengeluaran cairan tubuh lebih besar dibandingkan asupannya. Kekurangan cairan biasanya menyebabkan kadar kalsium dalam darah meningkat.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi :
·         Muntah
·         Diare
·         Gangguan diuretik (obat yang menyebabkan ginjal mengeluarkan sejumlah besar air dan garam)
·         Panas yang berlebihan
·         Demam
·         Berkurangnya asupan cairan karena berbagai alasan
Penyakit tertentu seperti diabetes melitus (kencing manis),diabetes insipidus, dan penyakit addison dapat menyebabkan dehidrasi karena hilangnya cairan yang berlebihan.
C.    Gejala
Pada awalnya, dehidrasi merangsang pusat haus di otak menyebabkan penderita minum lebih banyak air. Bila asupan cairan tidak dapat mengimbangi pengeluarannya, dehidrasi akan menjadi lebih berat. Jumlah keringat akan berkurang dan hanya sedikit manghasilkan air kemih.
Air akan berpindah dari cadangan dalam sel ke dalam aliran darah. Bila dehidrasi berlangsung terus-menerus, jaringan tubuh mulai mengering. Sel-sel mulai mengkerut dan mengalami gangguan fungsi. Sel-sel otak merupakan sel yang paling mudah terkena dehidrasi sehingga salah satu dari pertanda utama terjadinya dehidrasi yang berat adalah kekacauan mental yang dapat berlanjut menjadi koma.
Selain air, dehidrasi juga menyebabkan hilangnya elektrolit dari tubuh, terutama natrium dan kalium. Karena itu dehidrasi sering disertai dengan kekurangan elektrolit. Jika terjadi kekurangan elektrolit, air tidak dapat berpindah dari cadangannya di dalam sel ke dalam darah sehingga jumlah air dalam aliran darah berkurang. Tekanan darah dapat menurun, menyebabkan perasaan melayang atau seakan-akan hendak pinsan, terutama jika sedang berdiri (hipotensi ortotastik).
Jika kehilangan air dan elektrolit terus berlanjut, tekanan darah bisaturun sangat rendah, menyebabkan syok dan kerusakan yang berat pada berbagai organ dalam seperti, ginjal, hati, dan otak.
D.    Diagnosa
                    Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan gejala-gajalanya.
E.     Pengobatan
Untuk dehidrasi ringan yang diperlukan hanya minum air putih biasa. Tetapi jika terjadi kehilangan air dan elektrolit, garam juga harus diberikan, terutama natrium dan kalium.
Minuman yang diperjualbelikan (misalnya gatorade) telah diracik sedemikian rupa untuk menggantikan garam (Elektrolit) yang hilang setelah melakukan latihan berat. Minuman ini juga bisa digunakan untuk mencegah dehidrasi atau mengobati dehidrasi ringan. Hal ini juga bisa diatasi dengan minum sejumlah cairan dan mengkonsumsi sedikit garam selama atau setelah latihan.
Orang-orang yang memiliki masalah jantung atau ginjal harus terlebih dulu melakukan konsultasi dengan dokternya mengenai penggantian cairan yang aman sebelum melakukan latihan. Bila tekanan darah sangat menurun sehingga terjadi syok, untuk mengatasinya biasanya diberikan larutan yang mengandung natrium klorida intravena. Pada awalnya cairan intravena diberikan dengan cepat dan kemudian diperlambat sejalan dengan perbaikan keadaan fisik penderita.
Penyebab yang mendasari dehidrasi selalu diatasi. Misalnya, nila seseorang menderita diare, selain diberikan cairan pengganti juga diberikan obat untuk mengobati atau menghentikan diare. Jika ginjal terlalu banyak mengelurkan air karena terjadi kekurangan hormon antidiuretik (seperti yang bisa terjadi pada penderita diabetes insipidus), diberikan pengobatan hormon antidiuretik jangka panjang.

Bagian Lunak pada Panggul

Bagian Lunak pada Panggul

Bagian-bagian Lunak pada Panggul
Bagian lunak pada panggul terdiri dari otot, jaringan lunak dan ligamen.
1. Otot Otot-otot yang menyusun kerangka penopang organ-organ di dalam pelvis.
a)      Musculus Sfingter Ani Ekternus
Otot ini merupakan cincin otot yang melingkari anus. Otot ini terbentuk dari gabungan serabut otot dari lapisan superficial dan profundal commisurra posterior dan kulit perineum sebagian menutupi musculus sfingter ani ekternus.
b)      Musculus Bulbokavernosus
Otot ini merupakan otot yang berasal dari pusat perinium dan memberikan serabut-serabut longitudinal pada kedua sisi uretra dan vagina. Musculus bulbokavernosus mengelilingi vulva yang bertujuan untuk membantu kontraksi dinding vagina saat melakukan koitus. Serabut ini juga mengelilingi ostia sebelum berinsersi pada corpus clitoridis. Serabut-serabut anterior memungkinkan terjadinya ereksi klitoris pada saat aktivitas seksual. Otot ini juga sebagai penunjang musculus levator ani yang terletak lebih dalam dari otot ini.
c)      Musculus Transversus Parinea Suferfisialis
Otot ini berasal dari permukaan dalam masing-masing tuber ischiadika dan berjalan transversal melintasi pintu keluar pelvis. Serabut-serabut dari masing-masing otot akan menyatu dan menyilangdengan jaringan superfisial corpus perinei. Musculus transversus parinea suferfisialis sama halnya seperti musculus bulbokavernosus berfungsi untuk menopang muskulus levator ani yang terletak lebih dalam.
d)     Musculus Transversus Parinea Profundus
 Para transversus perinei profundus (atau perineal melintang dalam) muncul dari rami inferior ischium dan berjalan ke garis tengah, di mana ia interlaces dalam tendon raphe dengan sesama dari sisi yang berlawanan. Itu terletak pada bidang yang sama sebagai sfingter uretra membranaceae. Sebelumnya dua otot digambarkan bersama-sama sebagai uretra Constrictor.
e)       Musculus Stingfer Uretra
Otot ini merupakan muara dari uretra. Sfingter ini analog dengan sfingter pada pria, dan mempunyai nama yang sama. Namun di bandingkan dengan pria sfingter pada wanita lebih lemah dan merupakan struktur yang kurang penting. Ostium ini harus di bedakan dari klitoris yang harus diidentifikasi terlebih dahulu.
f)        Musculus Pubokoksigeus
Merupakan otot yang paling penting di antara semua otot dasar pelvis. Otot ini merupakan otot yang mengelilingi dan memperkuat uretra, vagina dan rectum. Otot ini juga merupakan penentu miksi, defekasi serta fungsi seksual yang normal.
g)       Musculus Iliococcygeus
Otot ini berasal dari linea alba faciae pada permukaan dalam masing-masing os. Illium dari masing-masing spina isciadika, serta berjalan ke belakang ke os. Coccygis.
h)       Musculus Ischiococcygeus
Berasal dari masing-masing spina ischiadika kemudian berlanjut ke bagian atas coccygis dan tepi bawah sakrum. Dilanjutkan ke posterior, sehingga diaphragma pelvis hampir tertutup. Otot-otot ini membantu menstabilkan articulatio sacro-illiaca dan articulatio sacrococcygea.
2. Jaringan Lunak Panggul
Jaringan lunak panggul terdiri dari uterus, otot dasar panggul dan perineum.
a)      Uterus
Uterus adalah suatu organ muscular berongga dan berdinding tebal. Bentuknya seperti buah per dan bagian apeksnya membentuk serviks yang menonjol ke dalam forniks vagina. Uterus terletak pada tengah pelvis minor dan terletak di antara kandung kemih dan rektum. Bentuknya pipih depan belakang. Dinding muscular anterior dan posteriornya menonjol ke dalam rongga sehingga dinding-dindingnya saling merapat. Di pandang dari depan, rongganya berbentuk segitiga. Uterus berhubungan dengan rongga peritoneum melalui tuba fallopii di bagian atas, dan dengan dunia luar melalui vagina bawah.
Ukuran uterus bervariasi, paling besar pada masa reproduksi dan pada wanita yang sudah mempunyai anak. Panjang rata-rata uterus pada wanita nulipara adalah 9 cm, lebar di bagian terlebar adalah 6 cm dan tebal depan-belakang 4cm, beratnya 40-60 gr. Tebal dinding adalah 1-2 cm, maka panjang rongga adalah 7cm. Uterus pada kehamilan dapat dibagi atas tiga bagian:
1)      Segmen atas uterus
Bagian uterus ini terdiri dari fundus dan bagian uterus yang terletak di atas refleksi lipatan vesiko-uterina peritoneum. Segmen ini mengalami hiperplasia dan hipertrofi otot paling besar selama kehamilan. Pada persalinan, segmen ini memberikan kontraksi yang kuat untuk mendorong janin ke jalan lahir.
2)      Segmen bawah uterus
Bagian uterus ini terletak di antara lipatan vesiko-uterina peritoneum di sebelah atas dan serviks di bawah. Selama kehamilan bagian atas serviks termasuk ke dalam segmen bawah uterus, yang meregang untuk mengakomodasi bagian presentasi janin. Ketika kontraksi otot segmen atas meningkat frekuensi dan kekuatannya pada kehamilan lanjut, segmen bawah uterus berkembang lebih cepat lagi dan teregang secara radial untuk memungkinkan turunanya bagian presentasi janin pada saat persalinan, seluruh serviks menyatu menjadi bagian segmen bawah uterus yang teregang.
3)      Serviks Uterus
Serviks uterus merupakan bagian uterus yang terdapat mulai dari persambungan fibriomuscular di atas sampai ostium serviks eksternum di sebelah inferior. Tapi atasnya bukan suatu tempat yang jelas, karena kebanyakan serabut miometrium berujung sebagai suatu kerucut otot yang menonjol ke dalam jaringan kolagen yang menyusun 90% bagian serviks. Beberapa serabut otot tipis terdapat di antara berkas-berkas kolagen dan membentuk 10% dari jaringan serviks. Endometrium berhenti sampai setinggi kerucut otot dan menjadi satu lapisan sel endoservikal kuboid yang terlipat menjadi celah-celah.
Pada kehamilan lanjut, serviks menjadi lebih lunak karena perubahan-perubahan kimiawi di dalam serabut kolagen, dan menjadi lebih pendek karena tergabung ke dalam segmen bawah uterus. Bagian ini juga mengalami berbagai derajat dilatasi. Perubahan-perubahan ini secara kolektif disebut pematangan serviks. Perubahan ini dapat terjadi secara mendadak atau kapanpun setelah kehamilan minggu ke-34, tetapi biasanya terjadi dekat terutama primigravida.
Pada kehamilan minggu ke-34, dilatasi serviks 2 cm atau lebih pada 20% primigravida dan pada 40% multigravida, dan proporsi ini meningkat sampai term. Pada permulaan persalinan, serviks primigravida telah matang, dan sebagian, atau tidak, mengalami penipisan (yakni, menjadi bagian dari segmen uterus bawah)
b)       Dasar Panggul
Dasar panggul terdiri dari kelompok otot levator ani, yang keluar dari masing-masing sisi panggul pada permukaan posterior pubis, dari kondensasi fasia (garis putih) yang menutup otot obturator internus, dan sisi pelvik spina iskiadiak. Otot tersebut mempunyai beberapa bagian otot yang diberi nama otot-pubokoksigeus, otot levator ani dan otot koksigeus. Serabut-serabut otot ini melandai ke arah bawah dan ke depan serta saling berjalin dengan serabut-serabut otot dari kelompok levator ani pada sisi yang berlawanan sehingga membentuk diafragma otot tempat lewatnya uretra, vagina dan rektum.otot-otot ditutupi facia dan membentuk diafragma pelvis.
c)       Perineum
Perineum (korpus perineum adalah jaringan yang terletak disebelah distal diafragma pelvis. Jaringan ini terbentuk piramid dan dibatasi di sebelah atas oleh permukaan diafragma pelvis di lateral oleh tulang dan ligamen pintu bawah panggul dan di bawah oleh vulva dan anus. Perineum dapat dibagi menjadi trigonium urogenital di anterior dan trigonum anal di posterior oleh otot-otot perineum melintang.perineum mengandung sejumlah otot superficial, sangat vaskular dan berisi jaringan lemak. Kepentingan sewaktu melahirkan adalah bahwa jaringan ini kerap rusak ketika janin dilahirkan.
3. Ligamen-Ligamen Panggul
a)  Ligamen Sacrospinosum
Ligamentum sacrospinous (ligamen sacrosciatic kecil atau anterior) adalah sangat tipis, segitiga ligamen yang melekat dengan puncaknya adalah pada spina ischiadika, dan medial, dengan dasar yang luas, untuk margin lateral sacrum dan tulang ekor, di depan ligamentum sacrotuberous bercampur dengan yang serat perusahaan bercampur.
Fungsi utamanya adalah untuk mencegah rotasi posterior dari tulang pangkal paha sehubungan dengan sakrum. Kelemahan dari ligamentum bersama dengan ligamentum sacrotuberous memungkinkan untuk rotasi posterior terjadi. Menekankan untuk ligamen ini terjadi paling sering ketika bersandar ke depan atau keluar dari kursi. Ketika ligamen panggul dan mendukung jaringan ikat bergilir dilemahkan atau tidak ada pada wanita, ligamentum sacrospinous menyediakan situs konsisten kuat untuk fiksasi dari puncak vagina, yang disebut ligamentum suspensi sacrospinous, di mana puncak vagina ditunda posterior dan lateral ke ligamen pada kedua sisi atau kedua sisi.
b)  Ligamen Sacrotuberosum
Ligamen sacrospinosum terlentang dari bagian lateral sacrum dan coccigys tuberosis ischiadika. Ligamen sacrospinosum dan ligamen sacrotuberosum bersama dengan ligamen sacro-olliaka, mengikat sacrum dan coccigys ke os. Dan mencegah pergerakan berlebihan dari sendi sacro-illiaca. Selain itu ligamentum ini membentuk foramen ischiadika mayor & minor dengan insisura mayor dan minor.
c) Ligamen Triangular
 Ligamen ini berfungsi sebagai area pintu keluar pelvis. Selain itu juga memperkuat servix vesicae urinariae karena ia meluas berjalan lurus melintasi arcus pubis. Dua daerah triangular terletak di depan dan dibatasi oleh muskulus ischiocavernosus dan musculus transversus parinei. Selain ketiga ligamen tersebut, juga terdapat ligamen-ligamen yang terbentuk dari penebalan facia pelvis yang di sebut dengan ligamen pelvis.
Ligamen-ligamen tersebut antara lain:
a.       Ligamentum Lateral
Ligamen ini merupakan ligamen yang terlentang dari linea alba faciae ke dinding lateral vesica urinaria.
b.      Ligamentum Pubovesicale
Ligamen ini terlentang dari cevix vesika urinaria ke permukaan dalam masing-masing corpus pubis. Ligamentum ini ikut membentuk ligamentum pubocervicale. Ligamen pubovesicale ini berfungsi untuk memperkuat vesica urinaria.
c.       Ligamentum Cervicale Transversum
Ligamen ini merupakan ligamen yang melekat pada fornix vagina dan servix supravaginalis. Ligamen ini merupakan ligamen yang paling kuat diantara ligamen pelvis.
d.      Ligamentum Uterosacrale
Sama halnya dengan ligamentum cervicale transversum, ligamen ini juga melekat pada fornix vagina dan servix supravaginalis. Ligamen ini berjalan ke posterior dan melekat pada tepi lateral corpus sacralis pertama.
e.       Ligamentum Teres Uteri
Ligamen yang berjalan dari anterior tepat di bawah corpus uteri dan tuba fallopi membentuk huruf  V lewat dinding abdomenndan canalis inguinalis sebelum berinsersi pada kedua labium majus.


Jumat, 18 Maret 2016

Makalah Biodas Bioper Spermatogenesis dan Oogenesis



MAKALAH
BIOLOGI DASAR DAN BIOLOGI PERKEMBANGAN
SPERMATOGENESIS DAN OOGENESIS
Di susun Oleh:
Kelompok : 10
Kelas: A.12.1
Nama Anggota dan NIM
1.     Fellisia Ersadea             15150045
2.     Siti Mujirahayu            15150043
3.     Wilhelmina Novia Lolu  15150014
4.     Julaina Ganit                15150031




FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI  D3 KEBIDANAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
                                                                               


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Spermatogenesis dan Oogenesis ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Ibu Nonik selaku Dosen Mata kuliah Biologi Dasar dan Biologi Perkembangan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
            Kami sangat berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Proses Spermtogenesis dan Oogenesis. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang.
            Sekiranya hanya ini yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan, akhir kata kami ucapkan Terimakasih.
           







Yogyakarta, 16 November 2015
Hormat kami,

Penyusun        







DAFTAR ISI
Halaman Judul          .............................................................................       1
Kata Pengantar         .............................................................................       2
Daftar Isi                    .............................................................................       3
BAB I Pendahuluan      ........................................................................       4
Latar Belakang            .............................................................................       4
Rumusan Masalah       .............................................................................       4
Tujuan      ................................................................................................       4
BAB II  Pembahasan    ........................................................................        5         
A.    Pengertian Spermatogenesis ......................................................        5         
B.     Proses Spermatogenesis        ......................................................        5
C.     Tahap – tahap Spermatogenesis        ..........................................        7
D.    Faktor  Yang Mempengaruhi Spermatogenesis ..........................       8
E.     Hormon Yang Mempengaruhi Proses Spermatozoa  .................        8
F.      Pengertiaan Oogenesis    .............................................................       9
G.    Proses Oogenesis        .................................................................       9
BAB III  Penutup      .............................................................................       11       
A.    Kesimpulan     .............................................................................       11
B.     Saran   .........................................................................................       12
Daftar Pustaka                 .....................................................................................      13












          BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet) yang kita kenal dengan peristiwa gametogenesis. Pada Laki-laki sel kelamin dibentuk oleh testis, sedangkan pada wanita dibentuk oleh ovarium. Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis.
Ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang atau 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom.
Secara umum gamet atau sel kelamin mengalami perkembangan melalui tingkatan sebagai berikut :
1. Tingkatan sebagai calon
2. Tingkat perbanyakan
3. Tingkat pertumbuhan
4. Tingkat pembelahan meiosis
5. Pengeluaran sel kelamin

B. Rumusan masalah
A.    Apa Pengertian Spermatogenesis ?
B.      Proses Spermatogenesis?
C.     Bagaimana Tahap – tahap Dari Spermatogenesis?
D.    Apa Sajakah Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Spermatogenesis ?
E.     Apa Pengertian Oogenesis?
F.      Bagaimana Proses Oogenesis?

C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Agar mahasiswa mengetahui pengertian Spermatogenesis dan Oogenesis
2.      Agar mahasiswa mengetahui proses Spermatogenesis dan Oogenesis
3.      Agar Mahasiswa mengetahui tahap – tahap dari Spermatogenesis









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormon gonadtotropin dan testosterone.
Spermatogenesis terjadi di testis. Didalam testis terdapat tublus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel – sel spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi memberi nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mengsekresikan hormon testosteron yang berperan pada proses spermatogenesis.
Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.

B.     Proses Spermatogenesis
Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu:
·         LH (Luteinizing Hormone) merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
·         FSH (Folicle Stimulating Hormone) merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.


Proses Spermatogenesis:
Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu:
1.  Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer.
Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid.
Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.
2.  Tahapan Meiois
Spermatosit primer menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I menghasilkan spermatosit sekunder yang n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis II membentuk empat buah spermatid yang haploid juga.
Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan lewat suatu jembatan  (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.
3. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa (sperma) masak. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.







C.    Tahap-tahap Spermatogenesis
Pada testis, spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Berikut adalah skema tahapan spermatogenesis:
Penjelasan skema tahap spermatogenesis:
ü  Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonium/spermatogonia) yang berjumlah ribuan.
ü  Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis kemudian mengakhiri sel somatisnya membentuk spermatosit primer yang siap miosis.
ü  Spermatosit primer (2n) melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2
spermatosit sekunder (n)
ü  Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 2 spermatid yang bersifat haploid. (n)
ü  Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua fungsional , yang berbeda dengan oogenesis yang hanya 1 yang fungsional.
ü  Sperma yang matang akan menuju epididimis , kemudian ke vas deferens- vesicula seminalis - urethra dan berakhir dengan ejakulasi.

Setelah terbentuk spermatozoa, sperma ini terdiri dari tiga bagian yaitu kepala sperma, leher sperma, dan ekor sperma. Berikut penjelasannya :
A.    Kepala Sperma, pada kepala sperma terdapat akrosom yang berfungsi untuk melindungi kepala sperma.
B.     Leher Sperma, pada bagian ini banyak mengandung mitokondria, sehingga tempat ini merupakan tempat oksidasi sel untuk membentuk energi, sehingga sperma dapat bergerak aktif.
C.      Ekor Sperma, bagian ini merupakan alat gerak sperma menuju ovum.




D.     Faktor Yang Mempengaruhi Spermatogenesis

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi spermatogenesis sehingga bisa terjadi kemandulan:
ü  Peningkatan suhu di dalam testis akibat demam berkepanjangan atau akibat panas  yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sperma, berkurangnya pergerakan sperma dan meningkatkan jumlah sperma yang abnormal di dalam semen.Pembentukan sperma yang paling efsisien adalah pada suhu 33,5° (lebih rendah dari suhu tubuh). Testis bisa tetap berada pada suhu tersebut karena terletak di dalam skrotum (kantung zakar) yang berada diluar rongga tubuh.
ü  Faktor lain yang mempengaruhi jumlah sperma adalah pemakaian marijuana atau obat-obatan (misalnya simetidin, spironolakton dan nitrofurantoin).
ü  Penyakit serius pada testis atau penyumbatan atau tidak adanya vas deferens (kiri dan kanan) bisa menyebabkan azospermia (tidak terbentuk sperma sama sekali.
ü  Varikokel merupakan kelainan anatomis yang paling sering ditemukan pada kemandulan pria. Varikokel adalah varises (pelebaran vena) di dalam skrotum.Varikokel bisa menghalangi pengaliran darah dari testis dan mengurangi laju pembentukan sperma.

E.     Hormon Yang Berperan Dalam Proses Pembentukan Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu:
ü  LH (Luteinizing Hormone)
LH (Luteinizing Hormone) merupakan hormon yang merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen / testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
ü  FSH (Folicle Stimulating Hormone)
FSH (Folicle Stimulating Hormone) merupakan hormon merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.
ü  Hormon Testosteron
Hormon testosteron (androgen)  merupakan hormon yang dihasilkan oleh testis Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ Seks primer  pada saat embrio dan mendorong spermatogenesis.
Selain itu, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi danciri kelamin sekunder, seperti tumbuh bulu dan kumis, dan dada menjadi bidang.












F.     Pengertian Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel – sel telur yang disebut oogonia (tunggal:oogonium). Pembentukan sel telur pada manusia dimulai sejak di dalam kandungan, yaitu di dalam ovari fetus perempuan. Pada akhir bulan ketiga usia fetus, semua oogonia yang bersifat diploid telah selesai dibentuk dan siap memasuki tahap pembelahan. Semula oogonia membelah secara mitosis menghasilkan oosit primer. Pada perkembangan fetus selanjutnya, semua oosit primer membelah secara miosis, tetapi hanya sampai fase profase. Pembelahan miosis tersebut berhenti hingga bayi perempuan dilahirkan, ovariumnya mampu menghasilkan sekitar 2 juta oosit primer mengalami kematian setiap hari sampai masa pubertas. Memasuki masa pubertas, oosit melanjutkan pembelahan miosis I. Hasil pembelahan tersebut berupa dua sel haploid, satu sel yang besar disebut oosit sekunder dan satu sel berukuran lebih kecil disebut badan kutub primer.
Pada tahap selanjutnya, oosit sekunder dan badan kutub primer akan mengalami pembelahan miosis II. Pada saat itu, oosit sekunder akan membelah menjadi dua sel, yaitu satu sel berukuran normal disebut ootid dan satu lagi berukuran lebih kecil disebut badan polar sekunder. Badan kutub tersebut bergabung dengan dua badan kutub sekunder lainnya yang berasal dari pembelahan badan kutub primer sehingga diperoleh tiga badan kutub sekunder. Ootid mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi ovum matang, sedangkan ketiga badan kutub mengalami degenerasi (hancur). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada oogenesis hanya menghasilkan satu ovum.

G.    Proses Oogenesis
Oogenesis secara sederhana prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
ü  Oogonium yang merupakan prekursor dari ovum tertutup dalam folikel di ovarium.
ü  Oogonium berubah menjadi oosit primer yang memiliki 46 kromosom. Oosit primer melakukan meiosis yang menghasilkan dua sel anak yang ukurannya tidak sama.
ü  Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat haploid. Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang lain karena berisi lebih banyak sitoplasma dari Oosit primer.
ü  Sel anak yang lebih kecil disebut badan polar pertama yang kemudian membelah lagi.
ü  Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi. Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami pembelahan meiosis yang kedua. begitu pula dengan badan polar pertama membelah menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi.
ü  Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid. Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu juga ootid kemudian mencapai perkembangan akhir atau finalnya menjadi ovum yang matang. Peristiwa pengeluaran sel telur dikenal dengan istilah ovulasi. Pada setiap ovulasi hanya satu telur yang matang dan dapat hidup 24 jam. Jika ovum yang matang tersebut tidak dibuahi, maka sel telur tersebut akan mati dan luruh bersama dengan dinding rahim pada awal siklus menstruasi.





















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
ü  Spermatogenesis adalah Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus.
ü  Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional.
ü  Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu:
·         Spermatocytogenesis
·         Tahapan Meiois
·         Tahapan Spermiogenesis
ü  Tahap – tahap spermatogenesis.
·         Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonium/spermatogonia) yang berjumlah ribuan.
·         Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis kemudian mengakhiri sel somatisnya membentuk spermatosit primer yang siap miosis.
·         Spermatosit primer (2n) melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekunder (n).
·         Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 2 spermatid yang bersifat haploid (n).
·         Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua fungsional , yang berbeda dengan oogenesis yang hanya 1 yang fungsional.
ü  Ada beberapa faktor yang mempengaruhi spermatogenesis sehingga bisa terjadi kemandulan:
·         Peningkatan suhu di dalam testis akibat demam berkepanjangan atau akibat panas yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sperma, berkurangnya pergerakan sperma dan meningkatkan jumlah sperma yang abnormal di dalam semen.
·         Pemakaian marijuana atau obat-obatan (misalnya simetidin, spironolakton dan nitrofurantoin).
·         Penyakit serius pada testis atau penyumbatan atau tidak adanya vas deferens (kiri dan kanan) bisa menyebabkan azospermia (tidak terbentuk sperma sama sekali.
·         Varikokel adalah varises (pelebaran vena) di dalam skrotum.Varikokel bisa menghalangi pengaliran darah dari testis dan mengurangi laju pembentukan sperma.

ü  Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu:
·         LH (Luteinizing Hormone)
·         FSH (Folicle Stimulating Hormone)
·         Hormon Testosteron
ü  Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel – sel telur yang disebut oogonia.



B.     Saran

Semoga pembaca dapat mempelajari dan mengetahui pengertian dari Spermatogenesis dan Oogenesis serta proses pembentukan Spermatogenesis dan Oogenesis dan agar pembaca mampu menjelaskan dan memahami apa itu Spermetogenesis dan Oogenesis.








































DAFTAR PUSTAKA


https://id.wikipedia.org/wiki/Proses_Pembentukan_Spermatogenesis_dan_Oogenesis.
 
Dunia Kebidanan Blogger Template by Ipietoon Blogger Template